CORDOVA Bookstore Online

Email:  info@cordova-bookstore.com          

Telp. 021-8004760;  0813-15942235

 

 

PENULIS:

 

ADIAN HUSEIN, MA. lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 17 Desember 1965. Ia saat ini menjabat sebagai ketua DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), sekjen Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina-Majelis Ulama Indonesia (KISP-MUI), Anggota Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan anggota pengurus Majlis Tabligh Muhammadiyah.

Ia memperoleh pendidikan Islam dari Madrasah Diniyah Nurul Ilmi Bojonegoro (1971-1977), Pondok Pesantren Ar-Rasyid Kendal Bojonegoro (1981-1984), Pondok Pesantren Ulil Albab Bogor (1988-1989), dan Lembaga Pendidikan Bahasa Arab, LIPIA Jakarta (1988).

Awalnya ia adalah sarjana Kedokteran Hewan dari IPB, tapi kemudian memilih karir sebagai wartawan di harian Republika. Profesi jurnalistik itu membawanya menempuh pendidikan S2 dan meraih gelar master di bidang Hubungan Internasional dari Universitas Jayabaya Jakarta. Saat ini Adian tengah menempuh pendidikan program doktor di Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam.

Salah satu aktivitas ilmiah dan organisasinya adalah sebagai peneliti di Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Jakarta, Institute for the Study of Islamic Thought & Civilizations (INSIST), dan Staf di Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PKTTI-UI) Jakarta.

Ia juga pernah menjadi wartawan Harian Berita Buana Jakarta, Harian Republika Jakarta, dan analis berita di Radio Muslim FM Jakarta, serta dosen Jurnalistik dan pemikiran Islam di Universitas Ibnu Khaldun Bogor dan Pesantren Tinggi (Ma’had ‘Aly) Husnayain Jakarta.

Produktivitasnya dalam menulis buku cukup tinggi, dengan kebanyakan karyanya bersifat kontrainformasi terhadap maraknya gerakan liberalisme Islam (khususnya di Indonesia). Bukunya "Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi" terpilih menjadi buku terbaik ke-2 dalam Islamic Book Fair tahun 2007. Pada forum yang sama setahun sebelumnya. bukunya yang berjudul "Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal" menjadi buku non-fiksi terbaik.

  Halaman Muka Cara Pembelian    

KARYA

ADIAN HUSEINI, MA.:

Wajah Peradaban Barat

Tinjauan Historis Konflik Yahudi, Kristen, Islam

Hermeneutika & Tafsir Al-Qur'an

Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi

Jihad Osama versus Amerika

Islam Liberal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEMI: Cinta Kebebasan Yang Tersesat  

 

Sebuah Novel Anti Liberalisme

 

Karya: Adian Husaini, MA.

 

 

 

  

 

 Penerbit: Gema Insani (2010)

 Isi: 330 hal. Soft cover

 Ukuran: 18.3 x 13.3 cm 
  

 Harga resmi: Rp 55.000,-

 Harga di CORDOVA: Rp 46.750,- (save 15%)

 

  Ongkos Kirim Rp 5.000,- untuk seluruh

  Jabodetabek. Wilayah lain konfirmasi

 

  BELI, Klik sini

 

 

 

 

 

SINOPSIS:

 

Novel "unik" karya ADIAN HUSEINI ini mengungkap liku-liku pemikiran dan kondisi kejiwaan sejumlah aktivis liberal di negeri antah berantah yang belum pernah terungkap dalam karya-karya para penulis fiksi sebelum ini. Novel ini wajib dibaca oleh para santri dan keluarga Muslim yang mencintai keimanan dan berkeinginan selamat dari jeratan angan-angan dan gurita liberalisme, yang tiap detik menyerbu pikiran mereka.

 

Novel KEMI” berkisah tentang dua orang santri cerdas yang berpisah jalan. Kemi (Ahmad Sukaimi), santri pertama, terjebak dalam paham liberalisme. Ia mengkhianati amanah Sang Kyai.

Kemi salah pilih teman dan paham keagamaan. Ujungnya, ia terjerat sindikat kriminal pembobol dana-dana asing untuk proyek liberalisasi di Indonesia. Nasibnya berujung tragis. Ia harus dirawat di sebuah Rumah Sakit Jiwa di Cilendek, Bogor.

Rahmat, santri kedua, selain cerdas dan tampan, juga tangguh dalam
“menjinakkan” pikiran-pikiran liberal. Rahmat disiapkan khusus oleh
Kyai Aminudin Rois untuk membawa kembali Kemi ke pesantren.

Meskipun misi utamanya gagal, Rahmat berhasil “mengobrak-abrik”
jaringan liberal yang membelit Kemi. Sejumlah aktivis dan tokoh
liberal berhasil ditaklukkan dalam diskusi. Prof. Malikan, rektor Institut Studi Lintas Agama, tempat Rahmat dan Kemi kuliah, ditaklukkan Rahmat di ruang kelas.

Siti, seorang aktivis kesetaraan gender, putri kyai terkenal di Banten, terpesona oleh kesalehan, kecerdasan, dan ketampanan Rahmat. Siti sadar dan bertobat, kembali ke orang tua dan pesantrennya, setelah bertahun-tahun bergelimang dengan pikiran dan aktivitas liberal. Rahmat juga berhasil menyadarkan Kyai Dulpikir, seorang Kyai liberal terkenal di
Jawa Barat. Sang Kyai bertobat dan wafat di ruang seminar.

Kecintaan Siti dan Rahmat pada dunia pendidikan dan dakwah membawa
mereka pada keputusan pahit: sepakat untuk berpisah dan tidak mengikatkan diri dalam satu tali perkawinan, meskipun mereka saling
mencinta.

 

*****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kembali ke Novel Islam